Menuai Apa yang Ditanam
Menuai Apa yang Ditanam
Saudara, di dalam ayat yang kita
baca dijelaskan bahwa Tuhan memerintahkan Musa dan Harun mengambil jelaga atau
abu dari dapur peleburan. Kemudian mereka menghadap Firaun dan menaburkannya ke
udara. Jelega itu berubah menjadi debu yang menyebar ke seluruh Mesir lalu
menyebabkan barah yaitu luka melepuh dan bernanah pada manusia dan hewan. Para
ahli sihir yang sebelumnya mampu meniru beberapa mukjizat kali ini tidak
berdaya. Semua orang di negeri itu, termasuk Firaun dan semua ahli-ahli sihir
tidak dapat berdiri karena terkena barah. Tetapi Firaun yang menyaksikan dan
merasakan sendiri kuasa Allah tetap mengeraskan hati sehingga Tuhan menyerahkan
dia dalam kekerasan hatinya.
Dapur peleburan tempat di mana Musa
mengambil jelaga merupakan sebuah tungku atau perapian besar pada zaman itu.
Tempat ini merupakan salah satu lokasi di mana bangsa Israel dipaksa untuk
bekerja. Di dapur peleburan ini, mereka membuat dan membakar batu bata (Kej.
1:14). Menariknya dalam tulah kali ini, Tuhan menggunakan dapur peleburan yang
merupakan alat perbudakan dan simbol penderitaan Israel sebagai sumber hukuman
bagi Mesir. Tuhan memakai jelaga atau abu dari dapur itu untuk menghukum
seluruh orang Mesir tanpa terkecuali. Melalui peristiwa ini Tuhan ingin
menyampaikan pesan bahwa Dia menakar perbuatan manusia dengan adil. Begitu juga
dengan kejahatan yang dilakukan maka akan ditakar dengan hukuman yang setimpal.
Saudara, prinsip ini sama dengan
apa yang disampaikan oleh Tuhan Yesus bahwa cara kita memperlakukan orang lain
akan menentukan bagaimana kita diperlakukan (Mat. 7:2). Jika kita melakukan hal
yang jahat maka hal yang sama juga akan ditakarkan kepada kita meskipun mungkin
dalam bentuk yang berbeda. Misalnya seorang atasan yang memperlakukan
karyawannya dengan kasar dan tidak adil mungkin nanti akan menghadapi kesulitan
dalam pekerjaannya atau kehilangan kepercayaan dari timnya. Atau seseorang yang
sering menyebarkan gosip dia akan kehilangan reputasi dan kepercayaan orang
lain ketika kebenaran terungkap. Oleh sebab itu, sebagai orang percaya mari
kita harus selalu hidup dengan integritas, keadilan, dan kasih. Sebab Tuhan
adalah Hakim yang adil dan akan memberikan balasan sesuai dengan perbuatan
kita.
Bagaimanakah cara saudara memperlakukan orang lain selama ini? Sudahkah saudara memperlakukan mereka dengan kasih? Jika belum. Maka mari datang kepada Tuhan di dalam doa. Kiranya Tuhan membimbing kita untuk menyadari bahwa Tuhan bukan hanya penuh kasih tapi Dia juga menakar perbuatan manusia dengan adil. Kiranya Tuhan membimbing kita untuk selalu memperlakukan orang lain dengan kasih. (MS)
Komentar
Posting Komentar