Restored In His Grace
Restored In His Grace
Saudara
setelah Yusuf mengungkapkan jati dirinya pada saudara-saudaranya dan hal ini
terdengar oleh Firaun. Ia mengizinkan Yusuf membawa ayahnya untuk tinggal
bersama-sama dengan seluruh keluarga besar mereka di Mesir (ay. 16-20). Pada
ay. 21-24, Yusuf melaksanakan perintah Firaun dengan cara memberikan
kereta-kereta untuk menjemput, perbekalan selama di jalan, pakaian untuk saudara-saudaranya,
serta uang untuk Benyamin dan 10 keledai untuk mengangkut perbekalan selama
ayah mereka pindah ke Mesir. Dan, Yusuf juga menasihati agar selama perjalanan,
“Jangan berbantah-bantah di jalan.” Nasihat ini diberikan kepada saudara-saudaranya,
karena Yusuf mengetahui bahwa pengungkapan jati dirinya akan menyebabkan
pertengkaran antara saudara-saudaranya tentang siapa yang paling bersalah
antara mereka.
Saudara,
jika kita mengingat kembali pada bagian awal perikop ini, Yusuf mengambil keputusan
untuk mengampuni keluarganya. Dan bukan hanya pengampunan tetapi dalam ay.
21-24, Yusuf juga dengan sepenuh hati menunjukkan ketulusan melalui berbagai
pemberian kepada keluarganya. Tindakan ini menggambarkan bahwa Yusuf
benar-benar berusaha melepaskan haknya untuk membalas kejahatan yang dilakukan
saudara-saudaranya kepadanya. Meskipun melalui nasihat Yusuf agar
saudara-saudaranya tidak bertengkar selama perjalanan pulang (ay. 24). Kita
melihat bahwa perlu waktu baginya untuk kembali sepenuhnya mempercayai bahwa
saudara-saudaranya tidak akan lagi menyakiti satu dengan yang lainnya.
Saudara dalam kehidupan yang kita jalani,
adakalanya kita bertemu dengan orang-orang yang menyakiti kita. Ketika
mengalami hal tersebut, maka kita alangkah baiknya jika kita mengampuni. Dan
ketika keputusan untuk mengampuni telah diambil, sadarilah bahwa kita
memerlukan waktu untuk kembali benar-benar memiliki hubungan yang baik dengan
orang tersebut. Oleh karena itu, ketika kita berusaha untuk mengampuni,
libatkan Allah dalam proses tersebut sehingga hati kita sepenuhnya dapat
kembali mengasihi.
Saudara,
mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara,
apakah kita telah bersandar pada Allah dalam proses mengampuni orang lain? Jika
belum. Mari berdoa dan mintalah Allah agar senantiasa menolong kita saat
mengambil keputusan untuk mengampuni serta dalam proses memulihkan kepercayaan
kepada orang tersebut. (TH)
Komentar
Posting Komentar