Tidak Tawar Hati
Tidak Tawar Hati
Pada ayat ini kita membaca bahwa Yakub
menjadi seorang yang tawar hati. Semenjak berpisah dengan Yusuf, dia berduka
berkepanjangan, hingga membuatnya selalu berpikiran buruk tentang segala
situasi yang sebenarnya belum pasti kebenarannya. Kesedihan dan kedukaan
membuatnya tidak berpikir dengan tenang dan jernih, melainkan membuatnya selalu
berpikir negatif.
Dalam
bahasa aslinya kata “kehilangan” dituliskan “shakol” yang berarti kehilangan
atau memunahkan atau keguguran. Dalam pikirannya, Yakub membuat kesimpulan
sendiri bahwa Yusuf dan Simeon seolah sudah mati, padahal di ayat 33
anak-anaknya menceritakan bahwa Simeon ditahan oleh Penguasa Mesir, dan masih
hidup. Lalu Yakub juga menjadi sangat khawatir akan kehilangan Benyamin, dan
menganggap bahwa segala sesuatu akan mendatangkan celaka bagi dia.
Saudara,
kesedihan atau kedukaan yang berlebihan adalah tidak baik. Perasaan berlebihan
tersebut membuat tidak bisa berpikir dengan jernih dan tenang, dan mempengaruhi
pikiran untuk mereka-reka khayalan keadaan yang lebih menyedihkan. Kondisi
demikian tidaklah baik, bahkan ini adalah bentuk pengabaian akan kehadiran
Allah dalam kehidupan.
Saudara,
sebagai orang Kristen yang beriman kepada Allah, kita hendaknya selalu
menyadari bahwa ada Allah dalam setiap
kejadian kehidupan. Seburuk apapun kenyataan yang sedang dihadapi, hendaklah
tetap sadar bahwa Allah hadir di segala waktu dan keadaan. Saatnya untuk tetap
mempercayai kebaikan Allah, karena Dia memelihara ciptaan-Nya dan tidak pernah
meninggalkan perbuatan tangan-Nya sampai selama lamanya. (TM)
Komentar
Posting Komentar