God is My Hope
God is My Hope
Saudara sebagian besar pasal 43 : 1-34
ini, berisi dialog antara Yakub dengan anak-anaknya. Percakapan dimulai dengan
persediaan makanan yang keluarga Yakub miliki akhirnya habis sehingga Yakub
memerintahkan mereka perlu untuk membelinya di Mesir (ay.1-2). Yehuda menjawab permintaan
ayah mereka dengan mengurai masalah secara rinci, salah satunya tentang membawa
Benyamin ke Mesir (ay. 3-5). Yakub kemudian merespons Yehuda dengan menyatakan,
“mengapa kamu mendatangkan kesengsaraan ini kepadaku dengan memberitahukan
kepada orang itu kamu masih mempunyai seorang adik?” (ay.6). Dan kemudian
Yehuda kembali merespons Yakub dengan mengurai fakta tentang peristiwa di Mesir
terutama berkaitan dengan perlunya mereka menyebutkan anggota keluarga mereka
(ay.7).
Saudara, mari kita memperhatikan
respons Yakub terhadap Yehuda pada ay.6. Yakub adalah seorang ayah yang telah
kehilangan anak-anaknya, Yusuf dan Simeon dengan sangat tiba-tiba. Peristiwa
ini mendatangkan trauma dalam dirinya sehingga pada ay. 6, ia merasa cemas
jikalau ia juga harus menyerahkan Benyamin ke tangan penguasa di Mesir.
Kecemasan tersebut membuatnya berpikir negatif secara ekstrem seperti misalnya
: Benyamin tidak akan kembali ke keluarganya. Jika kita mengingat pada kej. 42:
34, anak-anaknya telah menceritakan bahwa penguasa di Mesir berjanji untuk,
“Lalu bawalah kepadaku saudara bungsumu .. Aku akan mengembalikan saudaramu itu
kepadamu dan kamu boleh bergerak sebebasnya di negeri ini.” Yakub tidak melihat
adanya kemungkinan untuk Benyamin kembali bersama-sama dengan keluarganya
karena janji yang diucapkan oleh penguasa di Mesir tersebut.
Saudara, sikap Yakub ini mungkin kerap
kali kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan mungkin diri kita juga
pernah mengalaminya. Hati yang tenggelam dalam kepedihan, luka dan trauma akan
menjadikan kita cenderung berpikir negatif tentang masa depan sehingga tidak
dapat melihat adanya kemungkinan baik yang dapat terjadi. Dan, jika kita
mengalami hal ini maka berdoalah meminta Allah memulihkan luka dalam hati kita,
belajarlah untuk menerima hal-hal yang tidak dapat dikendalikan dan juga
ingatlah akan janji-Nya dalam kehidupan kita. Janji Tuhan ada banyak tertulis
dalam Firman-Nya, salah satunya “Sebab, Aku mengetahui rancangan-rancangan yang
Kupikirkan mengenai kamu, … untuk memberikan kepadamu masa depan yang penuh
harapan.” (Yer. 29: 11). Dengan demikian, jangan abaikan satu kemungkinan baik
yang muncul ditengah-tengah masa terkelam dalam kehidupan kita. Sebab, Ia
adalah Allah yang memegang kendali dan dapat memberikan harapan yang pasti
ditengah badai kehidupan seperti apa pun.
Saudara, mari sejenak kita merenungkan
Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, bagaimana cara kita merespons
peristiwa yang mendatangkan trauma/ kepedihan dalam kehidupan kita? Jika kita
mengijinkan pikiran negatif/kecemasan bahkan menjadi putus asa secara
berlebihan saat mengalami peristiwa yang mendatangkan trauma. Maka ingatlah,
bahwa Tuhan adalah pengharapan dalam kehidupan kita, Ia memiliki rancangan yang
indah bagi masa depan kita. (TH)
Komentar
Posting Komentar