Orang yang Buta Sejak Lahirnya I

Kamis, 28 April 2022
Orang yang Buta Sejak Lahirnya I
Bacaan Alkitab : Yohanes 9: 1-12

Kisah orang buta sejak lahir dalam perikop ini terjadi setelah hari raya pondok Daun, saat Yesus masih berada di Yerusalem. Ketika Kristus dan murid-murid-Nya melewati tempat orang buta tersebut biasa mengemis, para murid bertanya kepadaNya. “Rabi, siapakah yang berbuat dosa, orang itu sendiri, atau orangtuanya, sehingga ia dilahirkan buta? (ay. 2).” Pemikiran para murid tersebut merupakan pemikiran umum yang dimiliki oleh bangsa Yahudi yang menganggap bahwa seseorang dapat menjadi cacat/sakit sebab menanggung dosa orangtua atau generasi sebelumnya. Pemikiran tersebut didasarkan pada pernyataan Musa tentang Allah dalam Kel. 34: 7, “ …tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”
Jawaban Kristus atas pertanyaan tersebut yaitu, “Bukan dia dan bukan juga orangtuanya,… (ay. 3a)” bukan berarti bahwa orangtua/orang buta tersebut tidak berdosa tetapi Allah Bapa memliki tujuan lain yang membuat orang buta tersebut menjadi cacat sejak lahir. Dan tujuan itu adalah, “…tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia (ay. 3b).” Pernyataan Kristus ini menunjukkan bahwa tujuan ilahi yang telah dirancangkan oleh Allah Bapa bagi orang buta ini yaitu kesembuhannya adalah untuk kemuliaan nama-Nya. Saudara, hanya Allah Bapa yang tahu mengapa kita melalui hal-hal yang kita alami, tetapi janji-Nya adalah bahwa Dia senantiasa merancangkan kebaikan dari segala sesuatu yang menimpa kita (Rm. 8:28). Oleh sebab itu, kita dapat tetap senantiasa mempercayai-Nya  bahkan saat mengalami rasa sakit dan penderitaan yang paling buruk serta mungkin membingungkan bagi kita sebagai cara Allah untuk menyatakan kemuliaan-Nya atas kehidupan kita.
Saudara, Yesus menyembuhkan orang yang buta sejak lahirnya tersebut dengan mengoleskan debu tanah yang dicampur air liur-Nya (ay. 6) sebagai sarana yang Ia gunakan untuk menyembuhkannya. Dan, menunjukkan pada orang buta, para murid dan mereka yang menyaksikan peristiwa tersebut bahwa Yesus Kristus adalah Terang Dunia yang tidak hanya memberikan kesembuhan tetapi cahaya Ilahi kepada orang buta tersebut serta semua orang yang “buta” karena dosa. Dan inilah tujuan ilahi yang telah Allah tetapkan bagi orang buta tersebut.
Saudara, mungkin seringkali ada banyak situasi/pergumulan hidup yang Allah Bapa ijinkan terjadi dalam hidup kita dan kita tidak pahami apa maksud Allah di balik semua ini. Tetapi, keajaiban yang dialami oleh orang yang mengalami cacat bawaan (buta) dalam kisah yang kita baca hari ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah Bapa selalu memiliki maksud baik melalui semua pergumulan yang kita hadapi. Lalu apa yang harus kita lakukan? Sikap orang buta yang taat pada perintah Kristus untuk membasuh dirinya di kolam Siloam serta keinginannya untuk mencari Kristus yang menyembuhkannya (ay. 7). Dapat menjadi teladan bagi bagi kita untuk tetap taat dan bertekun mencari-Nya saat pergumulan hadir dalam kehidupan kita. Oleh sebab itu, marilah tetap beriman, taat dan tekun mencari-Nya serta nantikanlah pertolongan dan keselamatan yang dari Allah dalam situasi kehidupan kita. 
Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, apakah saat ini ada pergumulan kehidupan/sakit penyakit yang sedang saudara hadapi? Saudara telah berdoa, memohon pertolongan dari Allah Bapa dan kondisi saudara belum juga pulih? Jika ada. Marilah tetap percaya, bersabarlah, tetaplah taat pada perintah-Nya, carilah Tuhan senantiasa dan nantikanlah pertolongan yang daripada-Nya. -Thelie Herlina-

Pertolonganku adalah Dari Tuhan, Gunung Batu Keselamatanku

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup sesuai Kehendak Allah

Ribka Menjadi Istri Ishak (5)

Allah Memegang Kendali