Orang yang Buta Sejak Lahirnya II

Jumat, 29 April 2022
Orang yang Buta Sejak Lahirnya II
Bacaan Alkitab : Yohanes 9: 13-34

Dalam tulisannya tentang Kristus, Yohanes seringkali menekankan pertentangan antara Kristus dan orang Farisi serta ahli taurat. Pertentangan ini diawali sejak Kritus menyembuhkan orang di hari sabat dalam kisah orang lumpuh di Betesda (5: 1-18). Dan terus berlanjut sampai kisah “Orang yang Buta Sejak Lahirnya” yang kita baca hari ini. Orang Farisi dan Ahli taurat kembali menganiaya Kristus sebab Ia menyembuhkan orang buta di hari sabat. Dan karena itulah, orang Farisi dan ahli taurat terus menerus mengajukkan pertanyaan kepada orang buta dan orangtuanya untuk mencari celah yang dapat menghukum Yesus.
Terdapat dua sikap yang ditunjukkan oleh orang buta serta orangtuanya yaitu, pertama sikap berani bersaksi tentang Kristus. Sikap ini ditunjukkan oleh orang buta tersebut saat menghadapi berbagai pertanyaan dari para musuh Kristus. Dalam ketidaktahuannya tentang Kristus, dengan penuh keyakinan orang buta tersebut bersaksi bahwa Kristus adalah nabi yang berasal dari Allah, sehingga Ia mampu menyembuhkannya. Pernyataan yang menyatakan imannya adalah, “ … satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat…jikalau orang itu tidak datang dari Allah, ia tidak dapat berbuat apa-apa. (ay. 25, 33). Saudara, keberanian untuk bersaksi merupakan wujud iman kita kepada Allah. Marilah kita dengan penuh keberanian menyatakan perbuatan-perbuatan ajaib yang telah Allah lakukan bagi kita untuk membawa banyak orang datang kepada-Nya.
Kedua, sikap tidak berani bersaksi. Sikap ini ditunjukkan oleh orangtua dari orang buta yang telah disembuhkan (ay. 22-23). Meskipun ada kegembiraan sebab mengetahui puteranya telah sembuh, namun karena takut diusir dari sinagoge karena mengakui Kristus sebagai Mesias. Maka ketika orang Farisi dan ahli taurat bertanya tentang peristiwa ajaib yang dialami puteranya mereka terdiam. Bahkan, menyuruh mereka untuk bertanya langsung pada puteranya. Saudara, betul bahwa orangtua tidak menyaksikan peristiwa ajaib tersebut, tetapi dengan menyatakan bahwa puteranya lahir buta dan kini telah menjadi sembuh sebenarnya dapat menjadi kesaksian tentang perbuatan ajaib Allah. Sikap kedua orangtua dari orang buta tersebut mungkin pernah juga kita lakukan. Kita mengetahui kebenaran Allah atau bersukacita karena mengalami mujizat-Nya tetapi memilih untuk tidak bersaksi atau menyatakan kebenaran-Nya sebab takut dianggap sok suci/berlebihan bahkan dijauhi atau dimusuhi. 
Saudara, mari sejenak kita merenungkan Firman yang baru saja kita dengar. Saudara, dari kedua sikap diatas manakah yang seringkali kita pilih untuk lakukan? Apakah dengan penuh keberanian bersaksi tentang Kristus atau memilih bersikap tidak peduli/masa bodo/diam saat saudara memiliki kesempatan untuk bersaksi? Jika masih belum berani marilah meminta keberanian kepada Roh Kudus yang akan menolong kita bersaksi tentang Allah dan membawa banyak jiwa datang kepada Kristus. -Thelie Herlina-

Keberanian untuk Bersaksi Tentang Perbuatan Ajaib Allah Merupakan Wujud Iman Kita Kepada-Nya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hidup sesuai Kehendak Allah

Ribka Menjadi Istri Ishak (5)

Allah Memegang Kendali