Pemangsa Sesama

Senin, 1 Juni 2026
Pemangsa Sesama

Bacaan Alkitab : Imamat 11 : 13-19



Imamat 11 menuliskan tentang binatang yang haram dan tidak haram untuk dimakan. Melalui ketentuan ini, Allah sedang mengajar bangsa pilihan-Nya untuk taat, bahkan dalam hal makanan. Makanan dipahami memiliki makna simbolis: rohani, etis (moral dan disiplin hidup), estetis (keindahan, keteraturan, dan keharmonisan), higienis (kesehatan dan kebersihan), serta tentu saja teologis, yaitu berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah. Ayat yang kita baca merupakan bagian yang menerangkan jenis-jenis burung yang haram untuk dimakan. Banyak burung dalam daftar ini dikenal sebagai pemakan bangkai atau burung pemangsa, yang secara simbolik menggambarkan dunia kekerasan dan kematian. 

 

Jenis-jenis burung haram ini menggambarkan makna simbolis melalui perilakunya. Burung-burung tersebut melambangkan kehidupan predator: kehidupan yang keras, penuh perburuan brutal, kematian, dan kecenderungan memangsa sesamanya. Sementara itu, dalam tradisi Yahudi, makan dipahami sebagai bentuk persekutuan, perjanjian, dan penyatuan relasi. Karena itu, perilaku predator dipandang sebagai simbol kehidupan yang bertentangan dengan makna persekutuan dan relasi tersebut. Tentu saja, secara alami hewan-hewan predator itu tidaklah salah. Namun, dalam kerangka pemaknaan simbolis, perilaku predator itulah yang diangkat sebagai peringatan agar umat menjauhi cara hidup semacam itu.

 

Saudara-saudara, pemisahan jenis hewan ini menjadi penanda bahwa kehidupan orang percaya seharusnya dijalani dengan menjauhi perilaku buruk seperti yang digambarkan oleh hewan predator. Kehidupan kita selayaknya dijalani tanpa kekerasan, tanpa persaingan yang brutal, dan tanpa sikap memangsa sesama manusia. Kita percaya bahwa hidup kita berada dalam anugerah pemeliharaan Allah. Kita hidup bukan dengan mengandalkan kekuatan atau penaklukan atas orang lain. Makanan yang sampai di meja kita hadir karena Allah memelihara kehidupan kita. Kekerasan, persaingan yang tidak sehat, dan sikap memangsa sesama biasanya lahir dari ketamakan, bukan karena Allah tidak menyediakan pemeliharaan bagi hidup kita. (TM)

 

Refleksi     : Kehidupan kita selayaknya dijalani tanpa kekerasan, tanpa persaingan yang brutal, dan tanpa sikap memangsa sesama manusia

Komentar