Pemangsa Sesama
Pemangsa Sesama
Bacaan Alkitab : Imamat 11 : 13-19
Imamat 11 menuliskan tentang binatang yang haram dan tidak haram untuk
dimakan. Melalui ketentuan ini, Allah sedang mengajar bangsa pilihan-Nya untuk
taat, bahkan dalam hal makanan. Makanan dipahami memiliki makna simbolis:
rohani, etis (moral dan disiplin hidup), estetis (keindahan, keteraturan, dan
keharmonisan), higienis (kesehatan dan kebersihan), serta tentu saja teologis,
yaitu berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah. Ayat yang kita baca
merupakan bagian yang menerangkan jenis-jenis burung yang haram untuk dimakan. Banyak burung dalam daftar ini
dikenal sebagai pemakan bangkai atau burung pemangsa, yang secara simbolik
menggambarkan dunia kekerasan dan kematian.
Jenis-jenis burung haram ini menggambarkan makna simbolis melalui
perilakunya. Burung-burung tersebut melambangkan kehidupan predator: kehidupan
yang keras, penuh perburuan brutal, kematian, dan kecenderungan memangsa
sesamanya. Sementara itu, dalam tradisi Yahudi, makan dipahami sebagai bentuk
persekutuan, perjanjian, dan penyatuan relasi. Karena itu, perilaku predator
dipandang sebagai simbol kehidupan yang bertentangan dengan makna persekutuan
dan relasi tersebut. Tentu saja, secara alami hewan-hewan predator itu tidaklah
salah. Namun, dalam kerangka pemaknaan simbolis, perilaku predator itulah yang
diangkat sebagai peringatan agar umat menjauhi cara hidup semacam itu.
Saudara-saudara, pemisahan jenis hewan ini menjadi penanda bahwa
kehidupan orang percaya seharusnya dijalani dengan menjauhi perilaku buruk
seperti yang digambarkan oleh hewan predator. Kehidupan kita selayaknya
dijalani tanpa kekerasan, tanpa persaingan yang brutal, dan tanpa sikap
memangsa sesama manusia. Kita percaya bahwa hidup kita berada dalam anugerah
pemeliharaan Allah. Kita hidup bukan dengan mengandalkan kekuatan atau
penaklukan atas orang lain. Makanan yang sampai di meja kita hadir karena Allah
memelihara kehidupan kita. Kekerasan, persaingan yang tidak sehat, dan sikap
memangsa sesama biasanya lahir dari ketamakan, bukan karena Allah tidak
menyediakan pemeliharaan bagi hidup kita. (TM)
Refleksi : Kehidupan kita selayaknya dijalani tanpa kekerasan, tanpa persaingan yang brutal, dan tanpa sikap memangsa sesama manusia

Komentar
Posting Komentar